Selasa, 14 Desember 2010

PERINGATAN 1 MUHAROM

Banyak orang menganggap tanggal 1 Muharom adalah hari keramat, dalam istilah jawa, tanggal 1 Muharom di sebut juga tanggal 1 suro. dimana hari itu diberbagai daerah khususnya di pulau jawa diadakan berbagai kegiatan adat istiadat yang beraneka ragam. Mungkin banyak kisah dari zaman dahulu yang berbau mistik sehingga banyak orang meyakini bahwa tanggal 1 suro di anggap hari yang keramat. dan hari yang istimewa. Terutama oleh orang tua zaman dahulu yang masih memegang teguh adat kejawaan. tetapi mungkin bagi anak remaja zaman sekarang menganggap bahwa adat istiadat atau ritual seperti itu di anggap sudah kuno. Karena jarang sekali remaja sekarang yang tetap meu melestarikan kebudayaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang sampai sekarang. Mungkin hal tersebut tidak diajarkan dalam agama, tapi itu merupakan tradisi yang sudah ada dari zaman dahulu, banyak orang berkeyakinan bahwa melakukan tradisi tersebut akan banyak membawa berkah, dan bagi yang tidak melakukannya akan mendapatkan bencana.
Sebagai salah satu contoh dari berbagai adat istiadat yang masih ada sampai sekarang adalah :
  • Labuhan : Adat mempersembahkan sesaji kepada Nyi Roro Kidul yang dianggap sebagai penunggu laut selatan Jawa.
  • Pembersih benda-benda pusaka : seperti keris, jimat, dll.
  • Membersihkan segala hal dan dianggap membuat sial.
Sebagai remaja yang hidup di zaman sekarang sebaiknya kita memandang hal tersebut dari dua aspek :
  1. Budaya : Mungkin dengan mengadakan hal tersebut kita secara langsung telah melestarikan kebudayaan nenek moyang yang telah diturunkan sejak zaman dahulu. sebagai salah satu warisan budaya yang membedakan dengan bangsa lain. Hal ini bertujuan untuk menjaga kerukunan dan keakraban masyarakat dan sosial masyarakat akan lebih erat karena kita akan memahami dan menghargai budaya lain.
  2. Agama : Dengan hal tersebut kita tidak boleh percaya kepada hal tersebut, karena hal itu cenderung menjerumuskan kita kepada hal-hal yang bersifat syirik. Dengan menganggap adanya kekuatan selain dari Allah. Padahal kita sebagai hamba Allah dilarang keras untuk menyembah kepada apa pun selain Allah SWT.

5 komentar:

  1. @ Irfa Maalina : Hal ini sebagai contoh dari bentuk kajian studi islam terhadap antropologi. dalam menyikapi hal ini kita harus menyekatkan pemikiran kita terhadap dua sisi yang berbeda dengan pemikiran yang kritis. Budaya dan agama tidak dapat disatukan. Budaya hanya dapat dijadikan sebagai media penyebaran atau pengajaran tentang islam. tetapi jika tidak dibatasi dengan keimanan yang kuat maka hal ini dapat menjerumuskan kita.

    BalasHapus
  2. @ Siti Bariroh: Dalam hal ini seharusnya kita tidak berpikir tradisional dan juga mengabaikan hal-hal tersebut. Kita sebagai generasi muda harus menyikapinya secara kritis. Karena kitalah harapan bangsa yang dituntut untuk menjaga kelestarian budaya. Tetapi tanpa harus meyakininya sehingga kita tetap berkeyakinan teguh bahwa semua kejadian hanya kehendak Allah SWT. dan kita harus berhati-hati dalam memahami segala adat istiadat yang ada. cobalah berpikir untuk menerima kebiasaan masyarakat. tetapi dengan menggunakan kaidah-kaidah agama yang ada. Tetap Semangat untuk Belajar Kritis Yaaaw...!!!

    BalasHapus
  3. @ Ozan wae : Kita sebagai umat nabi Muhammad saw, harus mengikuti sunah-sunahnya. terutama kepribadiannya. Apalagi kita sebagai umat islam harus mengetahui kelahiran beliau. Dlam hal ini kita memperingatinya dengan istilah 1 Muharom. atau di jawa disebut juga 1 suro. dalam adat jawa itu seolah-olah hari keramat jadi kita harus merayakannya.Cukup sekian terima kasih...

    BalasHapus
  4. @siti romdlonatuzzulaichoh : memeang dalam adat jawa terjadi banyak budaya yang sebenarnya perlu adanya pendekatan terhadap studi islam, yang mana mencakup beberapa pendekatan. seperti kasus diatas kita sebagai umat islam kita mengkaji apa yang menjadi tujuan kegiatan tersebut. karena sebenarnya 1 muharam itu bulan yang mulia, jangan jadikan bulan mulia itu untuk sesuatu yang dapat murusak iman kita.
    OKE

    BalasHapus
  5. ya setuju..
    memeng banyak budaya yang ada diindonesia yang ada unsur bertentangan pada ajaran islam dan banyak juga masyarakat yang meyakini hal tersebut hingga sebagian dari mereka apabila ingin dihindari memeng sulit.dan kita sebagai generasi penerus alangkah baiknya menganut adat yang sesuai dengan ajaran islam.

    BalasHapus